PRABUMULIH, RADARDESA.CO – Sejumlah Calon Legislatif (Caleg) muda optimistis bisa membuat parlemen lebih baik jika kelak terpilih di Pemilu 2024.
Saat wawancarai media Radardes.co, Caleg muda berpotensi dari Partai Demokrat M. Jei Rakas Pakarlasah, SH yang juga pengacara muda terkemuka di Kota Nanas ini mengaku akan membenahi Kota Prabumulih karena merasa terpanggil melihat kondisi Kota kelahirannya yang semakin memprihatinkan, khususnya masalah korupsi yang merajalela dan ia merasa kurangnya bantuan hukum dan keadilan.

“Saya miris melihat anggaran proyeksi untuk rakyat tapi tidak untuk rakyat, yang seharusnya digunakan untuk pro rakyat seperti inprstruktur dan sebagainya,” ujar Rakas saat ditemui di kediamannya Kelurahan Gunung Ibul Timur Kota Prabumulih, Senin (05/02/24).
“Karena saya merasa program Kami juga yang terbaik makanya ini saat yang tepat maju sebagai caleg melalui Partai Demokrat,” sambung Rakas.
Rakas juga mengaku sangat geram melihat keadaan masyarakat kota tercintanya
Mulai dari legislatif, eksekutif hingga yudikatif.
“Bagaimana pejabat ? Ini salah satu kota kecil di Provinsi Sumatera Selatan. Jadi saya geram,” ujarnya.
“Saya ditawari menjadi Caleg terus-menerus, tak mau. Tapi lama-lama saya melihat dan memahami kondisi sekarang ini, aspirasi rakyat kurang disampaikan DPR,” tutur Rakas.
Budaya korupsi yang kini semakin mengakar juga menjadi motivasi Rakas mencalonkan sebagai Caleg. Di sisi lain, sangat jarang anggota DPR yang memiliki idealisme, yang benar-benar membela kepentingan rakyatnya.
“Kami melihat semakin hari para politisi jarang saya melihat yang idealis. Biaya politik memang tidak ada yang murah. Seperti saya di Dapil 1 Prabumulih Timur, pasti warga sudah cerdas-cerdas. Tapi sampai sekarang masih banyak saya temui yang bilang ‘wani piro’, itu semakin memicu saya menjadi wakil rakyat,” ungka Rakas.
lanjutnya, Motivasi utama mencalonkan diri sebagai caleg untuk memperbaiki kondisi bangsa dan khususnya Kota Prabumulih. Ia prihatin melihat rakyat selalu tertindas kepentingan segelintir orang. Satu-satunya kendaraan yang tepat untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah melalui lembaga legislatif.
“Kita selalu kehilangan APBN 30% per tahun. Apa alasan rakyat buat percaya DPR?, jadi memang generasi yang diwarisi persoalan yang sudah ditinggalkan. Maka itu kita ingin harapan untuk memperjuangkan harapan rakyat yang sudah direnggut itu,” tutupnya. (Fr/tim)










