KUALATUNGKAL, RADARDESA.CO – Selama Pandemi Covid-19 produksi pengolahan pupuk kompos integrasi pelepah sawit dengan kotoran sapi berhenti. Wal hasil sebanyak 90 karyawan mereka harus rela kehilangan pekerjaan.
Berhentinya produksi pengolahan pupuk kompos yang dikelola Badan Usaha Milik Desa ( BUMDes) Karya Bersama Desa Delima ini, akibat pemasaran pupuk kompos tersebut tersendat. Disebabkan belum adanya kejelasan MoU dengan pihak PT.Sinar Mas.
Direktur BUMDes Karya Bersama Zuvita Erdaningsih mengatakan jika selama 3 bulan terakhir BUMDes Karya Bersama Desa Delima mengalami penurunan omset hingga 50 persen, penurunan terbesar pada unit produksi pupuk kompos.
” Ya selama 3 bulan terakhir sejak pandemi covid-19, BUMDes Karya Bersama mengalami penurunan hingga 50 persen,” ungkapnya kepada radardesa.co Rabu (3/6).
Dikatakannya, pada produksi pupuk kompos saat ini berhenti Produksi karena kendala pada pendistribusian. Akibatnya saat ini sebanyak 40 orang karyawan dibawah BUMDes Karya Bersama dan 50 orang Kelompok tani harus kehilangan penghasilan.
” Akibat berhenti produksi sebanyak 90 karyawan kehilanga pekerjaan, walau ada beberapa kerja di perusahaan,” ungkapnya.
Padahal kata Zuvita, pada hari biasa pihaknya dapat pfodiksi hingha 500 ton per bulan dengan omset Rp.500 juta perbulan, begitu halnya dengan para karyawan yang menerima upah rata-rata Rp.2 juta perbulan.
” Dengan berhenti Produksi saat ini omset pun nihil dari biasanya hingga Rp.500 juta, karyawan juga biasa terima rata-rata Rp. 2 juta saat ini harus kehilangan penghasilan,” ungkapnya.
Gadis lajang ini menjelaskan kendala pemasaran pupuk kompos hingga berhenti produksi, hal tersebut dikarenakan adanya saat ini pendistribusian hasil produksi pengolahan pupuk kompos hanya ke PT Sinar Mas, walau ada sebagian dibantu pihak dinas perkebunan Tanjabbar tetapi tidak kontinyu.
” Kalau kendala kita pada pemasaran produk yang masih tergantung pada PT Sinar Mas, walaupun ada yang keluar seperti dari dinas perkebunan Tanjabbar tetapi tidak kontinyu,” ungkapnya.
Zuvita menceritakan jika dengan pergantian manajemen PT Sinar Mas ada perubahan harga dari biasanya Rp.1.350 samakin berkurang hingga Rp.1000 tetapi itu tidak masalah, namun saat perubahan kontrak untuk melanjutkan MoU datang virus corona, sehingga hasil produksi belum bisa didistribusikan dan menyebabkan hasil produksi menumpuk.
” Awalnya kan adanya perubahan manajemen PT.Sinar Mas, diduga untuk mengecilkan cost, harga berubah dari harga sebelumnya yakni Rp.1350, nah saat kita mau MoU setelah adanya kesepakatan harga ternyata virus corona sudah merebak, akhirnya MoU belum bisa dilaksanakan. Ya akhirnya hasil produksi tersendat karena tidak ada tempat distribusi, makanya selama 3 bulan ini kita stop,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, Zuvita berharap kepada Pemkab Tanjabbar dan Pemprov Jambi dapat membantu pemasaran pupuk kompos yang ia produksi
” Kami sangat berharap pihak pemkab Tanjabbar dan Pemprov Jambi dapat membantu pemasaran pupuk kompos produksi BUMDes Karya Bersama ini,” harapnya.(rie).










