KUALATUNGKAL,RADARDESA.CO – Ironis, disaat Pemerintah gencar kampanyekan gizi buruk dan stunting dengan anggaran yang fantantis, namun sejumlah warga Tanjabbar yang menderita gizi buruk lolos dari perhatian pemerintah. Seakan program cuma program dan hanya pencitraan kepala daerah.
Seperti halnya, Nasib pilu dialami Bayi Zivana Aulia seorang anak asal Parit H.Yakub Desa Bungo Tanjung Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Di usianya 5,5 bulan, Zivana mengalami kekurangan gizi buruk.
Sejak lahir bayi Zivana mempunyai bobot 3,5 kilogram dan hingga saat ini bobotnya masih sama dan belum pernah mendapat bantuan pemerintah baik Pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.
Bahkan, anak pasangan Ismail (52) dan Ernawati (36) tersebut sejak lahir tidak pernah ada perhatian dan bantuan dari pihak pemerintah desa maupun puskesmas. Sehingga tidak ada bantuan untuk berobat dari awal.
Tak hanya itu, pasca Zivana dibawa ke RSUD KH Daud Arif,Bupati Tanjung Jabung Barat Anwar Sadat langsung mengunjungi, namun dalam kunjungan tersebut bupati hanya membantu uang saku ke Ayah Pasien sebesar Rp.1 juta tanpa ada tanggungan biaya pengobatan baik untuk uang makan keluarga maupun lainnya.
Ketua Yayasan Muslim Penuh Cinta (MPC) Yuliawati mengatakan bahwa Zivana merupakan bayi gizi buruk.
“Gizi buruk, usia 5,5 bulan, berat badan 3,5 kilogram,” katanya saat ditemui radardesa.co, Kamis (16/09/2021).

Bunda Uly (sapaan akrabnya,red) pun menceritakan kronologi pertemuannya dengan Zivana. Dia mengaku bertemu Zivana saat ada posting video disalahsatu media. Kemudian Bunda Uly langsung menelusuri alamat dan mengadakan kunjungan kerumah di Parit Yakub Desa Bunga Tanjung.
“Awal ketemu, anak ini kondisinya kurus kering, kami sangat kasian,” ungkapnya.
Bahkan, kata Bunda Uly orang Pemerintah Desa dan Puskesmas hanya datang tanpa membujuk untuk berobat.
” Orang kesehatan pernah datang, ya karena tak punya BPJS jadi gak berani bawa ke Rumah Sakit. Ini kan saya bujuk, anak yang ditinggal dirumah saya kasih duit untuk makan, makanya mau kami bujuk bawa ke Rumah Sakit,” ujarnya.
Sebelumnya, pihaknya membantu untuk memfasilitasi ke Rumah Sakit di luar BPJS. Namun akhirnya pihaknya juga menguruskan pembuatan BPJS dan terus melakukan pendampingan di RSUD KH Daud Arif.
“Yang terpenting edukasi orangtua Zivana agar semangat terus maju pengobatan hingga tuntas,” katanya.
Menurutnya, perangkat desa juga tau jika Zivana mengalami gizi buruk. Dia mengatakan bahwa orang tua Zivana yang berprofesi sebagai petani tersebut kurang paham dengan kondisi anaknya.
“Dalam waktu 5,5 bulan apakah pihak Dinkes Tanjabbar tak tahu dan tak melakukan apa-apa?,” ujarnya.
Bahkan lanjut Bunda Uly, saat Bupati Tanjabbar mengunjungi bayi Zivana memerintahkan jajaran membantu dan terus mengawasi perkembangan Bayi Zivana, tapi hingga saat ini biaya RSUD ditanggung BPJS dan biaya makan keluarganya yang menunggu di rumah sakit masih ditanggung tim nya tanpa ada tanggungan dari pemerintah.
” Kemarin pak Bupati Ustadz Anwar datang menjenguk ya bahasanya minta jajaran dinas kesehatan mengawasi dan memberikan bantuan yang diperlukan, tapi hingga saat ini masih kami lah yang nanggung keluarganya. Kalau pengobatannya kan ditanggung BPJS. Adalah pak Bupati kasih uang untuk pasien Rp. 1 juta katanya,” bebernya.
Bahkan Bunda Uly menyayangkan berita yang beredar terkait pengobatan Zivana tersebut jika dalam pengobatan di tanggung semua oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas padahal hingga saat belum ada bantuan sama sekali.
“Ketika kami jemput dari awal kami sudah siap dengan smua kebutuhannya. Tapi sangat disayangkan sekali bahwa berita muncul itu semua di siapkan dinas dan puskesmas. Seolah pemerintahlah sendiri berbuat.
Jika selama ini anak ini terpantau, tak mungkin sampe sekurus ini,” tandasnya.
Bunda Uly berharap agar jangan ada anak-anak lain yang mengalami hal seperti Zivana. Dia minta agar ada sinergi pemerintah dan relawan dalam mengatasi gizi buruk.
“Harapan kami, jangan sampai ada lagi Zivana yang lain. Dengan sinergi pihak pemerintah, relawan dan masyarakat, soal semacam ini harusnya tidak terjadi. Di negeri kita yg subur, masih ada anak seperti hidup di Gaza,” pungkasnya.(*).










