Radar Desa
  • HOME
  • Info Desa
    • REGULASI DESA
    • Siskeudes
  • Berita Daerah
    • Provinsi Jambi
    • Tanjab Barat
    • Tanjab timur
    • Kota Jambi
    • Muara Jambi
    • Sarolangun
    • Kerinci
    • Merangin
    • Bungo
    • Tebo
    • Batanghari
  • Kabar Desa
    • Tokoh Desa
    • BPD
    • Perangkat Desa
    • Musyawarah Desa
    • RKPDes
    • Nasional
    • Pemerintah Desa
    • Suara Warga
  • Desa Membangun
    • Desa Wisata
    • Inovasi Desa
  • Ekonomi Desa
    • Alokasi Dana Desa
    • Dana Desa
  • Fenomena Desa
    • Korupsi
    • Dinamika Desa
  • Mitra Desa
    • Apdesi
    • BKTM
    • PPDI
    • PKK
  • Radar Politik
    • Pilbup
    • Pilgub
    • Partai Politik
No Result
View All Result
  • HOME
  • Info Desa
    • REGULASI DESA
    • Siskeudes
  • Berita Daerah
    • Provinsi Jambi
    • Tanjab Barat
    • Tanjab timur
    • Kota Jambi
    • Muara Jambi
    • Sarolangun
    • Kerinci
    • Merangin
    • Bungo
    • Tebo
    • Batanghari
  • Kabar Desa
    • Tokoh Desa
    • BPD
    • Perangkat Desa
    • Musyawarah Desa
    • RKPDes
    • Nasional
    • Pemerintah Desa
    • Suara Warga
  • Desa Membangun
    • Desa Wisata
    • Inovasi Desa
  • Ekonomi Desa
    • Alokasi Dana Desa
    • Dana Desa
  • Fenomena Desa
    • Korupsi
    • Dinamika Desa
  • Mitra Desa
    • Apdesi
    • BKTM
    • PPDI
    • PKK
  • Radar Politik
    • Pilbup
    • Pilgub
    • Partai Politik
No Result
View All Result
Radar Desa
No Result
View All Result
Home Berita

CERITA BIROKRASI

17 September 2020
in Berita, Editorial, Radar Politik
0
CERITA  BIROKRASI

Musti Nauli

21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Musri Nauli

Setelah rapat dipimpin Kepala Daerah, disebabkan adanya kegiatan lain, maka Kepala Daerah kemudian meninggalkan rapat. Rapat selanjutnya dipimpin oleh Wakil Kepala Daerah.

Tanpa sebab, tiba-tiba Kepala Daerah bergumam
“Nah. Itu dia. Mengapalah pentingnya ada dari birokrat. Biar dia paham. Supaya ngomong tidak boleh sembarangan. Kadang keinginan harus sesuai dengan peraturan”, katanya sembari mematikan microphone yang terletak didepannya.

Dalam kesempatan lain, kudengar juga “Ntah apo yang disampaikannya. Sayopun tidak mengerti”, kata wakil Kepala Daerah.

BacaLainnya

Kasus Penganiayaan Wartawan, Polres Periksa Kades Teluk Ketapang dan Lima Orang

Aliansi Jurnalis Desak Polres Tanjab Barat Usut Tuntas Dugaan Pengeroyokan Wartawan

Bupati Anwar Sadat Pimpin Tabur Bunga di Sungai Pengabuan, Berbagi Sembako dan Bendera kepada Nelayan

Memenangkan Pilkada tanpa memahami teori birokrasi menyebabkan kesulitan didalam pelaksanaan program pembangunan. Belum lagi kultur birokrasi di Indonesia.

Mengingat cerita teman yang sampai 3 hari mengadakan Rapat Kerja Nasional dengan Menteri. Lengkap dengan Para Dirjen.

Berbagai persoalan disampaikan. Berbagai rencana kemudian disusun. Entah mengapa kemudian ditingkat pelaksanaan, sama sekali nol besar.

Rencana yang disusun bahkan lengkap dengan roadmap, table waktu pelaksanaan bahkan tahap-tahap pekerjaan yang mau dilakukan hanyalah menjadi dokumen. Tumpukan kertas. Dan sama sekali tidak berarti.

Problema utamanya adalah “kepala”, “manager” bahkan “pengambil keputusan” tidak memahami birokrasi.

Secara harfiah, kata “birokrasi” berasal dari “biro” dan “kratia”. Istilah dari abad 18 yang menyebutkan “biro” (bureau/Bereaucratie/Bureaukratia) diterjemahkan “meja tulis”. Selain itu sering juga diterjemahkan sebagai tempat para pejabat bekerja.

Berbagai literatur kemudian menyebutkan “orang atau pejabat yang duduk dalam Lembaga birokrasi yang dapat mempengaruhi”.

Sebagai bagian dari demokrasi, birokrasi harus bekerja untuk kepentingan publik. Max Weber menempatkan “birokrasi” sebagai “memisahkan antara kantor dan si pemegang jabatan. Kondisi yang tepat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat, hubungan otoritas yang disusun secara sistematik antara kedudukan, hak dan kewajiban yang diatur dengan tegas.

Problema muncul ditingkat kultur birokrasi. Bagaimana regulasi sering mengatur untuk urusan menjadi panjang dan bertele-tele.

Masih ingat ketika program e-KTP. Progam nasional yang digagas untuk “single identity card”. Sebuah program yang membuat satu data kependudukan di Indonesia.

Namun selain kemudian menimbulkan kehebohan dalam persoalan korupsi, gagasan awal “single identity card” menjadi gagal.

Lihatlah. Bagaimana hampir setiap urusan mesti harus photocopy KTP. Padahal dengan “scanning” KTP, maka seluruh data-data kependukan langsung muncul. Tanpa harus melakukan pengisian data manual.

Sehingga tidak salah kemudian program “single identity card” kemudian malah cuma menjadikan KTP kertas menjadi KTP plastik.

Semangat awal “single identity card” kemudian menjadi gagal.

Kegagalan pendataan kependudukan nasional menyebabkan berbagai data-data kependudukan menjadi masalah.

Lihatlah. Bagaimana data yang ambural menimbulkan persoalan “gas 3 kg”, data “beras subsidi”, “bantuan tunai” menjadi tumpeng tindih. Antara satu instansi pemerintah berbeda satu dengan yang lain.

Sehingga tidak salah kemudian berbagai gejolak ditengah masyarakat menyebabkan konflik horizontal.

Bantuan yang diterima masyarakat tidak menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Selain juga adanya masyarakat yang tidak berhak menerima namun kemudian menikmati fasilitas bantuan dari negara.

Begitu juga dengan pendataan menghadapi pemilu. Dengan data yang tersentral, justru tidak ada “suara siluman” yang muncul menjelang pemilu.

Atau kehebohan data kependudukan menjelang masuk tahun ajaran baru. Berbagai sekolah ternyata justru tidak menampung anak-anak yang justru tinggal di sekitar sekolah.

Sehingga tidak salah kemudian Indonesia mengalami kegelapan.

Satu problema pendataan menyebabkan birokrasi menjadi gemuk, bertele-tele dan rumit.

Padahal disaaat milenimum abad modern, birokrasi harus menyesuaikan dengan pola kerja “good government”. Para birokrasi sudah memaparkan pekerjaan yang akan dilakukan dengan prinsip “transparansi” dan “dapat dipertanggungjawabkan (accountable).

Informasi yang bersifat publik harus terbuka untuk umum. Akses terhadap informasi merupakan keharusan zaman canggih seperti ini.

Berbagai aplikasi seperti “e-government”, “e-Procurement”, “e-budgetting” merupakan bagian tidak terpisahkan dari “good government” dan “accountable. Dan aplikasi merupakan keharusan.

Problema semakin rumit ketika pimpinan daerah tidak menguasai birokrasi. Dan tidak memahami kultur birokrasi.

Sehingga tidak salah kemudian “ketertinggalan daerah” disebabkan dengan “informasi yang tidak utuh”.

Dan waktu tidak mau menunggu untuk menyambut perubahan zaman.

(Penulis merupakan Advokat yang tinggal di Jambi).

Tags: Opini

Related Posts

Kasus Penganiayaan Wartawan,  Polres Periksa Kades Teluk Ketapang dan Lima Orang
Berita Daerah

Kasus Penganiayaan Wartawan, Polres Periksa Kades Teluk Ketapang dan Lima Orang

27 Agustus 2026
112
Aliansi Jurnalis Desak Polres Tanjab Barat Usut Tuntas Dugaan Pengeroyokan Wartawan
Berita Daerah

Aliansi Jurnalis Desak Polres Tanjab Barat Usut Tuntas Dugaan Pengeroyokan Wartawan

27 Agustus 2026
277
Bupati Anwar Sadat Pimpin Tabur Bunga di Sungai Pengabuan, Berbagi Sembako dan Bendera kepada Nelayan
Berita Daerah

Bupati Anwar Sadat Pimpin Tabur Bunga di Sungai Pengabuan, Berbagi Sembako dan Bendera kepada Nelayan

17 Agustus 2026
16
Bupati Anwar Sadat Pimpin Upacara HUT ke-81 RI
Berita Daerah

Bupati Anwar Sadat Pimpin Upacara HUT ke-81 RI

17 Agustus 2026
13
Bupati dan Wabup Hadiri Rapat Paripurna Kedua DPRD Tanjab Barat, Nota Kesepakatan Perubahan KUA-PPAS APBD 2026 Ditandatangani
Berita Daerah

Bupati dan Wabup Hadiri Rapat Paripurna Kedua DPRD Tanjab Barat, Nota Kesepakatan Perubahan KUA-PPAS APBD 2026 Ditandatangani

14 Agustus 2026
15
Hiburan Rakyat Semarakan Kemerdekaan dan Hari Jadi ke-61 Tanjab Barat
Berita Daerah

Hiburan Rakyat Semarakan Kemerdekaan dan Hari Jadi ke-61 Tanjab Barat

14 Agustus 2026
14
Next Post
Arah Pilgub, Safrial: Kita Lihat Nanti

Arah Pilgub, Safrial: Kita Lihat Nanti

Sekda : Tanjabbar Kabupaten Pertama yang Punya Perda Covid-19 Se – Provinsi Jambi

Sekda : Tanjabbar Kabupaten Pertama yang Punya Perda Covid-19 Se - Provinsi Jambi

Pemkab Gelar Rakor Persiapan Pilkada di Tengah Pandemi

Pemkab Gelar Rakor Persiapan Pilkada di Tengah Pandemi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Gaji BPD Naik 20 Persen, Tahun Ini Kades, BPD Dapat Gaji 13 dan 14, Ini Besarannya

    Gaji BPD Naik 20 Persen, Tahun Ini Kades, BPD Dapat Gaji 13 dan 14, Ini Besarannya

    14419 shares
    Share 5768 Tweet 3605
  • Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RPJM Desa

    11878 shares
    Share 4751 Tweet 2970
  • Bolehkah Membawa HP Berisi Aplikasi Al-Qur’an ke Toilet? Ini Penjelasan dan Dalilnya

    8935 shares
    Share 3574 Tweet 2234
  • Kalender Kegiatan Pemerintahan Desa Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014

    8934 shares
    Share 3574 Tweet 2234
  • Mau Jadi Pendamping Desa? Ini Tugas Terbaru Pendamping Desa sesuai Permendesa 18 tahun 2019

    7836 shares
    Share 3134 Tweet 1959
Radar Desa

© 2020 Radar Desa - Developed by Tim IT RD

Portal Berita Desa I PT.Radar Delta Nusantara

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Jenjang Karir
  • Media Patner

Follow Us

No Result
View All Result
  • HOME
  • Info Desa
    • REGULASI DESA
    • Siskeudes
  • Berita Daerah
    • Provinsi Jambi
    • Tanjab Barat
    • Tanjab timur
    • Kota Jambi
    • Muara Jambi
    • Sarolangun
    • Kerinci
    • Merangin
    • Bungo
    • Tebo
    • Batanghari
  • Kabar Desa
    • Tokoh Desa
    • BPD
    • Perangkat Desa
    • Musyawarah Desa
    • RKPDes
    • Nasional
    • Pemerintah Desa
    • Suara Warga
  • Desa Membangun
    • Desa Wisata
    • Inovasi Desa
  • Ekonomi Desa
    • Alokasi Dana Desa
    • Dana Desa
  • Fenomena Desa
    • Korupsi
    • Dinamika Desa
  • Mitra Desa
    • Apdesi
    • BKTM
    • PPDI
    • PKK
  • Radar Politik
    • Pilbup
    • Pilgub
    • Partai Politik

© 2020 Radar Desa - Developed by Tim IT RD