Pria yang baru berusia 34 tahun itu mengaku lebih suka menyelenggarakan program padat karya tunai di desanya. Sejak awal pandemi, puluhan pekerjaan telah disediakan pada warga desa. Seluruhnya disediakan lewat mekanisme padat karya tunai (PKT).
Yudi menyebut setidaknya ada 25 pekerjaan yang ditawarkan lewat program PKT. Dari puluhan program pekerjaan itu, ada dua program yang tak terlaksana karena minim peminat. Yakni ternak lele dan pembuatan garam tradisional. Beberapa program lainnya masih berjalan. Terutama yang bergerak di sektor pertanian dan bahari.
“Roh dari PKT itu kan bukan semata-mata memberdayakan masyarakat atau mempekerjakan warga yang menganggur. Tapi mengoptimalkan apa yang dibutuhkan desa, dibuat di desa, dengan memberdayakan masyarakat desa. Sehingga ada multiplier effect (dampak pengganda) di tingkat desa yang dirasakan masyarakat,” ungkapnya.
Asal tahu saja, sejak awal masa pandemi, Pemerintah Desa Tembok telah menggagas program padat karya tunai. Program ini diprioritaskan bagi warga yang kehilangan mata pencaharian akibat pandemi. Termasuk bagi para perantau yang bekerja di sektor pariwisata. Hingga akhir Agustus 2020, dana yang disalurkan untuk PKT baru mencapai angka Rp 140 juta. Jumlah itu tak sampai 10 persen dari total APBDes Tembok yang mencapai angka Rp 2,2 miliar.
Sumber: radarbali.jawapos.com






