Awal menggunakan speedboat, semula saya sempat heran. Mengapa para penumpang lebih suka memilih bangku dibelakang. Sehingga saya kemudian segera memilih bangku didepan. Terutama disamping nakhoda. Ataupun dibelakang nakhoda.
Namun ketika speedboat mulai dipacu kencang, posisi speedboat yang agak nukik membuat speedboat kemudian menghantam air. Sehingga membuat perut seakan-akan muntah. Sejak itu saya kemudian kapok untuk memilih duduk didepan.
Dan cerita itu kemudian berulang. Dengan melihat polah dan tingkah sebagian besar kru Jambi mantap memilih bangku depan, saya kemudian tersenyum-senyum.
Ketika dari Desa Air Hitam Laut menuju Pulau Berhalo memang masih siang. Sekira jam 12.00. Ombakpun belum begitu deras.
Mereka berebutan duduk didepan. Bahkan dengan santai dua orang malah duduk disamping nakhoda.
Sepanjang perjalanan belum terasa kekuatan ombak. Mereka malah banyak yang berdiri. Memandang Pulau Berhalo dari kejauhan. Berteriak histeris kegirangan.
Bahkan menjelang ke Pulau Berhalo, sebagian besar malah berdiri. Bak “Laksamana Cheng Ho” memimpin pelayaran menyerbu Majapahit.
Setelah kunjungan ke Makam Datuk Paduko Berhalo, istirahat sebentar dan makan siang, kamipun pulang.
Lagi-lagi mereka tetap memilih duduk dibangku depan. Tidak berubah posisi duduk.
Pelan tapi pasti. Ketika mulai menyeberang Selat Malaka, Selat yang paling sibuk lintas perdagangan dunia, ombak besar mulai menghantam speedboat.
Posisi speedboat yang menukik membuat badan depan speedboat menghantam ombak begitu keras. Sehingga terguncang-guncang.
Semula para kru Jambi mantap masih menganggap “petualangan yang harus dilalui”. Namun ketika semakin kencang dan perut terguncang-guncang, para kru malah berhamburan mencari posisi duduk ke belakang.
Suasanapun menjadi heboh. Semuanya kemudian memilih untuk memilih duduk ke belakang.
Sayapun tertawa sepanjang perjalanan. Mengingat kisah ketika semula naik speedboat.
Namun perjalanan ke Pulau Berhalo begitu berkesan bagi kru Jambi mantap. Dan Al Haris “sengaja” memberikan amunisi dan adrenalin untuk mengembalikan stamina kru Jambi mantap yang telah mengikuti perjalanannya selama 4 bulan.
Sehingga tidak salah kemudian “Kru Jambi Mantap ingin ke Pulau Berhalo, bang” yang disampaikan begitu kental. Sayapun tersenyum mengikuti kisah perjalanan ke Pulau Berhalo.
*) Penulis adalah Direktur Media Publikasi dan Opini Tim Pemenangan Al Haris-Sani.









