“Sebelumnya kami mohon maaf. Hal ini sebagai bentuk antisipasi dan kesiapan gugus tugas kita,” ujar Taharuddin.
Terpisah anggota DPRD Tanjabbar, Suprayogi Syaiful menyoroti terkait pembelian 5 peti mati dinilai penghambur-hamburan dana Covid-19 di Tanjabbar.
” Untuk apa itu, perkembangan Covid-19 Tanjabbar kan sudah membaik, apa ini bentuk kebingungan Pemkab Tanjabbar dan tim Covid-19 untuk menggunakan uang Rp.101 Milyar yang dianggarkan,”tandas politisi muda ini.
Yogi mengaku pembelian peti mati ini, bentuk kebodohan Pemkab yang diperlihatkan ke publik, seharusnya pemkab dan tim Covid-19 lebih fokus pada edukasi ke Masyarakat dan merealisasikan bantuan dampak Covid-19 ke masyarakat, bukan malah beli peti mati dan menyiapkan lahan.
” Ngapain Pemkab beli Peti mati, siapkan lahan? Ini bentuk kebodohan Pemkab yang ditunjukkan ke publik. Seharusnya Pemkab beri edukasi yang baik tentang Covid-19, merealisasikan bantuan kebutuhan masyarakat yang terdampak pandemi seperti sembako dan lainnya, bukan malah beli peti mati dan lahan,” tegas Mantan Ketua DPD KNPI Tanjabbar ini.
Yogi mengaku jika penanganan Covid-19 di Tanjabbar gagal total, sebab saat ini bukannya bagaimana segera merealisasikan bantuan sembako dan BLT, malah sebaliknya.
” Itu menandakan penanganan Covid-19 di Tanjabbar gagal total, sehingga Pemkab atau tim Covid-19 kebingungan merealisasikan anggaran yang besar Rp.101 milyar, sehingga terjadi penghamburan uang yang tak jelas,” tuturnya.
Yogi juga mempertanyakan bantuan beras 20 kilogram dari Pemkab Tanjabbar yang saat ini belum terdisbusikan ke 13 Kecamatan sebelum lebaran, padahal saat itu masyarakat sangat membutuhkan akibat pandemi covid-19 saat ini. Lanjutnya belum lagi, distribusi alat pendeksi tubuh dan APD ke Puskesmas- puskesmas.
” Harusnya itu dulu pikirkan, bantuan sembako harusnya sebelum lebaran sudah terdistribusikan, kenyataan apa? Belum lagi sejumlah Puskesmas yang tak dilengkapi dengan APD, juga face shild, ini malah yang lain yang gak penting? Bahkan sampek sekarang ruang isolasi masih belum layak, harusnya jadi perhatian. Dananya kan ada? Kok malah bingung?,” ungkap Yogi keheranan.
Yogi mengaku aliran dana Rp.101 milyar dengan memangkas sejumlah dana di sejumlah OPD tersebut sudah sangat fantastis, namun harusnya dibarengi dengan perencanaan penanganan Covid-19 yang tersusun, bukan malah sebaliknya.
“Saya rasa dengan aliran dana segitu besar dapat sedikit membantu meringankan beban yang dirasakan masyarakat kecil yang ada di Tanjabbar akibat imbas menurunnya pendapatan mereka, namun apa?,”pungkasnya.(rie).








