“Jembatan darurat agak mengerikan, apalagi disaat hujan sudah berhenti, di pastikan jembatan tersebut akan licin, ya kami memang takut tergelincir karena tidak ada pegangan tangannya, jadi lebih baik kami (warga) ambil jalan mutar saja, walaupun agak jauh,”ungkapnya.
Selain pekerjaan jembatan di Parit Itur jadi keluhan masyarakat, lokasi jembatan lain di Parit Yusuf juga ditemukan kejanggalan terkait tiang pancang jembatan tersebut.

Kali ini, pembangunan jembatan/tiang pancang bersumber dana APBD tahun 2020 dengan nilai kontrak Rp. 6.773.578.000, yang dikerjakan melalui bendera CV Geva Karya Utama disinyalir dalam pengerjaannya tidak sesuai mutu dan kwalitas.
lagi-lagi hal yang sama terjadi, seperti di Parit Itur, pekerjaan di Parit Yusuf ini juga tanpa pengawasan konsultan.
“Bahkan oprit jembatannya sudah ada yang dicor tanpa pengawasan dari pihak terkait, hal ini tentu berdampak buruk, karena tidak diawasi maka pekerjaan akan jauh dari mutu dan kualitas,” sebut Ahmad tokoh pemuda setempat.
[irp]
Sementara itu, Kepala Desa Harapan Jaya Abdul Fatah juga mengaku kecewa terhadap pekerjaan rekanan tersebut, selain masuknya tanpa ada pemberitahuan ke pihak desa, juga beberapa jembatan menjadi keluhan masyarakat.
” Ini contoh jembatan yang parit itur, jembatan darurat menghkhawatirkan keselamatan pengguna dan tanpa koordonasi dengan kita,” ujarnya.
Dikatakannya, pihaknya telah menghubungi pihak konsultan agar menyampaikan keluhan masyarakat tersebut ke pihak kontraktor.
” Konsultan sudah kita hubungi, katanya kontraktornya siap perbaiki,” ungkapnya.
Selain itu, kata Fatah keluhan masyarakat juga saat pihak rekanan Penghai meminta bantu masyarakat mencarikan crucup, tetapi pihak rekanan hanya membeli murah.







