Pagi harinya, kami diajak Pak Jaro Ruhandi keliling desa dan melihat kegiatan sehari-hari masyarakat. Saya melihat kegiatan pembuatan suling bambu, pembuatan wayang golek baik yang miniatur untuk aksesoris, ataupun untuk dimainkan di panggung. Kemudian kami melihat pembuatan golok khas Warungbanten, pembuatan tas ayaman dari bambu (Kanderon). Semua kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari desa. Bantuan dari desa berupa mengikutkan pengrajin ke beberapa pelatihan dan bantuan modal berupa pemberian alat-alat penunjang kerajinan. Hasil dari kerajinan ini sudah sering ikut dalam berbagai pameran, baik yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten atau provinsi, bahkan yang diadakan kelompok komunitas.

Pemerintah Desa Warungbanten memiliki bumdes yang bernama Bumdes Dewara. Bumdes Dewara ini ditetapkan oleh Pemerintah Desa Warungbanten pada tahun 2015, melalui Perdes nomor 4. Pengembangan potensi desa antara lain pengembangan makanan lokal, kerajinan tangan, literasi desa, wisata adat, pengelolaan curug dan pengembangan wisata pertanian.
Saat ini Bumdes Dewara menjalani jenis kegiatan berdasarkan kebutuhan penduduknya. Di antaranya warung serba ada, konveksi dan jasa transaksi keuangan. Waresda yang dikelola Bumdes ini tidak mematikan warung-warung yang ada di desa, karena barang yang dijual adalah sembako, dedak untuk ternak dan air kemasan.
“Ada cerita mengapa Bumdes Dewara membuka usaha konveksi. Karena desa kami selalu terlibat dalam kegiatan olahraga, dan selalu kesulitan dalam pembuatan kostum olahraga. sehingga anak-anak kesulitan membeli pakaian seragam sekolah, karena desa kami jauh dari ibukota kabupaten. Bahkan Desa Warungbanten lebih dekat ke Kabupaten Sukabumi, sekitar dua jam perjalanan. Maka sesuai hasil diskusi bersama pengurus Bumdes, dibuatlah usaha konveksi. Alhamdulilah pada 2016 konveksi mulai berjalan dengan modal awal Rp 35 juta. Sampai saat ini konveksi terus berjalan dan selalu mendapatkan order dari berbagai kalangan. Bahkan untuk wilayah Kecamatan Cibeber, hanya Desa Warungbanten yang memiliki usaha konveksi sehingga pasar yang tersedia sangat luas,” paparnya.
Meskipun Bumdes Dewara belum sebesar Bumdes lainnya, namun Bumdes Dewara tetap membagi hasil dari keuntungan untuk kegiatan sosial. Hal ini tertuang dalam AD/ART sebesar lima persen, dan harus dikeluarkan setiap tahunnya. Selain itu, Bumdes Dewara juga memasarkan produk lokalnya seperti kerajinan tangan seperti tas dari bambu, wayang golek juga angklung dan kerajinan lainnya.







