Saya masih ingat, saat itu ada seorang dokter mengatakan bahwa ramuan jahe merah dapat mencegah penularan Covid-19, maka beramai-ramai orang mendatangi pasar, memburu dan memborong jahe merah, hingga jahe merah menjadi komoditi langka, harganya meroker hingga di angka Rp. 150.000/ kg.
Pada waktu yang lain, saya juga baca opini yang beredar di medsos yang menjelaskan bahwa buah jambu merah dapat menambah kekebalan tubuh dan mencegah penularan virus corona, maka beramai-ramai lah orang memborong buah jambu merah, hingga harganya meroket dari Rp. 7.000/ kg menjadi Rp. 25.000/ kg.
Saya yakin jika saat itu, ada perusahaan jamu nasional dan lokal, atau BUMN Farmasi berani mengumumkan produk ramuan jamu atau produk obatnya yang dapat menyembuhkan atau mencegah penularan Covid-19, maka pasti produknya akan diburu dan diborong oleh masyarakat, sebagaimana jahe merah hingga jambu merah.
Saya juga yakin, Sufmi Dasco Ahmad bersama beberapa rekannya yang positif tertular Covid-19 ketika itu juga tak akan repot mengumpulkan para ahli untuk membuat ramuan Herbavid-19. Demikian juga seluruh pasien yang positif Covid-19, mereka pasti berbondong-bondong memburu dan memborong produk jamu nasional dan atau obat obatan produk BUMN Farmasi.
Karena itu, apa yang salah dengan ramuan Herbavid-19 yang disalurkan secara gratis oleh Satgas Covid DPR kepada mereka yang terinveksi Covid-19? Anggaran untuk membeli Herbavid-19 sama sekali tak menggunakan anggaran negara. Herbavid-19 menurut keterangannya juga bukan ramuan impor dari China. Memang ramuan Herbavid 19 mengacu pada buku panduan penanganan Covid-19 di Wuhan. Namun, Herbavid-19 adalah ramuan yang diracik dengan menggunakan delapan jenis bahan herbal yang berasal dari alam Indonesia? Hanya tiga bahan yang tak tersedia di Indonesia yang dibeli dari China.
[irp]
Bukankah ketika itu menemukan obat atau ramuan jamu yang dapat menyembuhkan dari virus Covid-19, termasuk membeli dari negara lain adalah sebuah respon positif dan spontan dari seorang yang berkehendak untuk dapat sembuh dari pandemi corona? Sebagaimana dijelaskan di atas, ketika tak ada produk nasional, baik ramuan jamu maupun jenis obat-obatan, maka setiap orang ketika itu mencari cara dan jalanya sendiri-sendiri, menemukan obat atau jenis ramuan, agar dapat sembuh atau terhindar dari penularan virus corona.
Bisa dibayangkan, tekanan kepada mereka yang dinyatakan positif terinfeksi corona, raganya digerogoti oleh penyakit, mentalnya juga terteror dan dibunuh oleh beragam virus informasi yang menakutkan tentang corona.
Ketika seorang dinyatakan positif terinveksi virus corona, itu pasti terasa seperti langit mau runtuh, membayangkan anak dan istrinya yang berpotensi tertular. Apalagi membayangkan tak ada obat yang dapat menyembuhkan.








